Hari ini, setelah melihat postingan foto bergambar seorang guru yang sedang mengajar. Ingatanku kembali pada masa lalu. Kala itu aku pernah berkata pada diriku sendiri bahwa aku tidak suka menjadi guru, tidak pantas, aku bukan seseorang yang sabar untuk mengajarkan sesuatu pada seseorang. Mungkin pernyataan ini, didasari oleh aku yg tak pernah bisa mengajari adiku dengan baik di rumah (read: tdk sabaran, selalu ngomel² bahkan adiku sampai menangis dan tak mau lg belajar dgnku haha).
Sampai suatu ketika aku harus memilih jurusan untuk jenjang pendidikan S1 ku. Tidak mau berbau pendidikan, tdk mau nanti sampai jd guru, gumamku. Ya, benar. Aku tidak memilih pendidikan, pilihan pertama ku adalah sastra inggris (murni non pendidikan) dan kedua kimia (lagi² murni non pendidikan) di dua universitas negeri berbeda. Aku suka bahasa karena hmmm... unik, beragam, keberadaannya sgt penting. Keingintahuan kepadanya membuatku mengetahui banyak hal. Aku suka itu. Aku pilih kimia, awalnya karena tutorku. Dia membuat kimia menjadi ringan, mudah dimengerti dan keren. Dan kemudian aku suka. Kemudian sampai pada akhirnya justru jurusan yang ku ambil ketika kuliah bukan keduanya. Coba tebak?
Singkat cerita jurusan itu adalah pertanian. Ya, melenceng sgt jauh, benar. Kenapa bisa? Pertimbanganku waktu itu adalah, pertanian masih sains, msh berhubungan dengan kimia laluu... apasalahnya jika kelak anak pertanian jg belajar bahasa inggris? Atau bahkan mampu menguasainya? Ah itu jg cukup bagus (ada kata cukup disini, yg artinya msh terdapat keraguan thdp pilihanku)
Akhirnyaa, jadilah aku seorang mahasiswa pertanian. Tak pernah terlintas sedikitpun dibenakku sebelumnya, asli.
Ditengah masa perkuliahan ada salah satu tutorku semasa SMA dulu menelponku, beliau berhalangan hadir untuk mengajar di tempatnya dan meminta bantuanku untuk menggantikannya mengajar. Hah? Kaget? Gimana caranya ngajar. Spontan itu yg berkelebat dipikiran setelah mendengar permintaannya tersebut. Akupun jelas langsung menolak. Tapi dia bersikeras meyakinkanku, "cuma hari ini gia, saya sgt² perlu bantuanmu, tolong ya. Akan ada reward spesial jg dari saya" katanya meyakinkan. Sejujurnya aku tidak enak hati, mengingat beliau adalah orang yg sgt berjasa bagi saya, luluh jg akhirnya. Baiklah hanya sehari, aku ambil bahasa inggris. Akupun mengajar-----
Bulan-bulan berikutnya, ada teman seangkatan SMA ku (dia ini mengajar---di tempatku dulu---dimana aku---sempat mengajar) "gi, ngajar lagi yuk. Kita kurang pengajar nih. Bantuin dong" katanya. Lagi² ada tawaran ini. Aku pikir matang², bagaimana caraku menolak dengan alasan yg benar. Dan yg ada dipiranku justru, "haruskah diambil? Toh cuma weekend, dan aku free. Eh lumayan juga untuk tambahan uang jajan" Pikirku sebagai mahasiswa yg cukup realistis dan sedikit menantang diri sendiri. Aku ambil.
Dan ternyata cukup lama aku mampu bertahan mengajar disana, dari semasa kuliah bahkan setelah lulus pun aku masih sempatkan untuk mengajar dikala senggang. Aku menyusun rencana mengajar, bahan mengajar, soal ujian dan merancang hal-hal yang kiranya membuat kelasku menyenangkan. Wah begini rasanya. Aku yg dulu sangat tidak menyukainya, bahkan melabeli diriku sendiri sbg anti-guru. Hari ini aku justru sgt bersyukur pernah mengambil kesempatan itu. Banyak hal yg ku dapatkan, lingkungan yang kurasa memiliki energi positif tinggi, orang² yang sangat menginspirasi, semangat mereka yang memotivasi serta hal² lainnya yang belum pernah ku ketahui sebelumnya. Aku menyukainya. Pepatah yang mengatakan tak kenal maka tak sayang itu benar.
Entah apa itu rasanya, ketika ada beberapa pesan masuk setelah aku berhenti mengajar "kak apa kabar" "kak udh ga ngajar" "msh boleh ga nanya kak" "ngajar lg dong kak". Yang ingin kusampaikan hanya "Terimakasih sudah pernah jadi muridku, aku tak pernah menyesal pernah mengajar". Dan kini aku merindukan momen itu.
Cerita ini kutulis kurang lebih hanya setengah jam, mengalir begitu saja setelah aku makan mi ayam ceker favoritku. Sekian~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar